Tuesday, June 28, 2011

Evolusi Emblem Liverpool FC

“The Liver Building” yang puncak menara ada 2 liverbird
Liverbird Crest
Gambar burung yang ada di setiap logo atau crest Liverpool FC ini, masih diwarnai kontroversi, terutama termasuk dalam jenis apakah burung yang di sebut “liverbird” ini ?? Pertama kali di kenal tahun 1350-an, dah merupakan segel resmi museum kota Liverpool. Masuk abad 17-an, asal mula “liverbird” mulai dilupakan, dan di masukkan sebagai “commorant”, atau species burung laut yg sering ditemukan di teluk kota Liverpool.

Nama Liverbird tercetus oleh The Earl of Derby menghibahkan tongkat kebesaran dengan ucapan “engraved with …. A leaver” yang akhirnya jadi rujukan atas nama “liverbird” tersebut. Beberapa abad kemudian, dalam sebuah buku manual tentang suatu lambang, “Liverbird” diplesetkan dalam bahasa belanda, yaitu “lefler” yang berarti sponbill, seekor burung langka di utara Inggris.

Liverbird sendiri mulai populer di tahun 1911, saat Royal Liver Friendly Society membangun markas besar di kota Liverpool, tepat di ujung dermaga, menghadap sungai Mersey. Yang mana kemudian bangunan itu di beri nama “The Liver Building” dan menjadi bangunan yang paling populer di Liverpool. Di atas bangunan di bangun menara jam kembar, dengan burung cormorant persis di tenga masing2 menara, menyerupai “liverbird”. Menara di desain oleh “Bernard Bartels” dan di bangun oleh The Bromgrove Guild.

Pemandangan kedua “Liverbird” di menara tersebut makin mempertegas mitos yang berkembang di pesisir pantai. Menurut legenda, burung2 itu adalah “Liverbird” jantan dan betina, dimana jantan menghadap ke kota, sedang betina menghadap ke laut.

Legenda lokal, juga mengatakan kalau kedua “liverbird” tidak menghadap satu sama lain, karena kalau mereka terbang, maka kehidupan di kota Liverpool akan berhenti ….

Selain kedua “Liverbird” tadi, masih ada liverbird di tempat lain, yaitu di dekat Mersey Chambers Office Building yang berbatasan dengan Church of Our Lady dan Gereja St.Nicolas. “Liverbird” ke-4 lebih dikenal dlm bentu bebatuan, dan ada di atas gedung perbelanjaan St.John hingga di bongkar pada tahun 1964. Sedang kini Liverbird tersebut bisa dilihat di Merseyside Maritime Museum, Liverpool.

Logo awal Liverpool FC, di pakai selama 1 abad ( 100 tahun )
Logo ini di gunakan pada saat Liverpool FC merayakan Ulang tahun ke-100,
Selain perisai dan liverbird, mulai di tambahkan kalimat

“You’ll Never Walk Alone”
Logo Liverpool yang mendapat tambahan gambar api di kiri dan kanan, yang di sebut flame of justice, untuk mengenang para korban tragedi Hillborough dan Heysel.
Logo yang di pakai Liverpool hingga saat ini.

YOU'LL NEVER WALK ALONE

YOU'LL NEVER WALK ALONE GATE
Pendukung The Red, Liverpool , pasti tau hymne/ lagu kebangsaan-nya pendukung liverpool (the Kop) yang judulnya you'll never walk alone. Lagu ini pasti dinyanyikan oleh pendukung setia the kop, di anfield atau di mana saja mereka berada mendukung liverpool bertanding. Lagu ini Diciptakan dua orang musisi Amerika Serikat untuk pementasan opera di Broadway, Carousel, pada 1945.

Mereka adalah pemusik Richard Rodgers dan pencipta lirik Oscar Hammerstein II. Pada 5 Oktober 1965, grup band asal Liverpool, Gerry & The Pacemakers, melansir albumnya yang salah satu lagunya berisi You'll Never Walk Alone. Sebagian sejarah menyebut, gara-gara Gerry & The Pacemakers, suporter Liverpool lantas kerap menyanyikannya. Tapi sebagian kesaksian menyebut The Kop sudah demen melagukannya beberapa pekan sebelum launching album band itu.
LIVERPUDLIAN yang setia menyanyikan lagu YNWA dimana The Red's bermain

Sampai sekarang suporter Liverpool masih bertengkar dengan pendukung Glasgow Celtic, Skotlandia, 
Glasgow Celtic
Ajax Amsterdam
soal siapa yang lebih berhak "memiliki" anthem tersebut. Pasalnya, para pendukung Celtic juga mengklaim sebagai suporter pertama yang menjadikannya sebagai lagu kebangsaan.Satu yang tak bisa dimungkiri, pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, Liverpool adalah garda depan urusan musik.
 Dipimpin The Beatles, yang semua anggotanya tak ada yang suka sepak bola, Kota Liverpool dikenal banyak menghasilkan band dan musisi dunia. Inilah gelombang Merseybeat--lagu dari Merseyside. Aksen orang-orang Liverpool, scouser, berbeda dengan aksen Inggris kebanyakan.Penjelasan itu mungkin bisa menerangkan bila You'll Never Walk Alone ala Gerry & The Pacemakers turut mendunia bersamaan dengan gelombang Merseybeat.

Ipswich Town juga mengklaim lagu itu sebagai miliknya.Banyak klub luar Inggris juga menyanyikannya: CSKA Sofia (Bulgaria); Rapid Vienna (Austria); Dinamo Zagreb (Kroasia);
 Ajax dan Twente (Belanda); Dortmund, Schalke, Bremen, St Pauli, Aachen, Mainz 05, dan Kaiserslautern (Jerman); AEK Athens (Yunani); FC Tokyo (Jepang); serta Brugge, Antwerp, dan Mechelen (Belgia).Entah siapa yang sebenarnya lebih berhak. ini dia liriknya ...

You'll Never Walk Alone
When you walk through a storm
Hold your head up high
And don't be afraid of the dark
At the end of the storm
Is a golden sky
And the sweet silver song of a lark
Walk on through the wind
Walk on through the rain
Though your dreams be tossed and blown
Walk on walk on with hope in your heart
And you'll never walk alone
You'll never walk alone
Walk on walk on with hope in your heart
And you'll never walk alone
You'll never walk alone.
   -YNWA-

Final Liga Champions 2004/2005 antara AC Milan vs Liverpool

ISTANBUL The Final 2005
Final Liga Champions 2005
25 Mei 2005
Stadion Olimpiade Kemal Ataturk, Istanbul
Wasit: Manuel Mejuto Gonzalez
Penonton: 70.024 orang
View Papan Skor di Atatürk Olympic Stadium,Istanbul

AC Milan 3-3 Liverpool
(2-3 adu penalti)
(Paolo Maldini 1', Hernan Crespo 39', 44';
Steven Gerrard 54', Vladimir Smicer 56', Xabi Alonso 60')

Liverpool
1- Jerzy Dudek
3- Steve Finnan / 16- Dietmar Hamann (46')
21- Djimi Traore
23- Jamie Carragher
4- Sami Hyypia
14- Xabi Alonso
10- Luis Garcia
6- John Arne Riise
8- Steven Gerrard
7- Harry Kewell / 11- Vladimir Smicer (23')
5- Milan Baros / 9- Djibril Cisse (85')
AC Milan
1- Nelson Dida
2- Marcos Cafu
3- Paolo Maldini
31- Jaap Stam
13- Alessandro Nesta
21- Andrea Pirlo
8- Gennaro Gattuso / 10- Rui Costa (112')
20- Clarence Seedorf / 27- Serginho (86')
22- Ricardo Kaka
7- Andriy Shevchenko
11- Hernan Crespo / 15- Jon Dahl Tomasson (85')

Dinding stadion Kemal Ataturk seperti setipis kertas. Dari kamar ganti Liverpool, sorak sorai pemain AC Milan di ruangan yang berbeda begitu jelas terdengar. Semua pemain Liverpool tertunduk lesu. Tak ada yang berani menegakkan kepala. Pada malam final Liga Champions 2004/05 itu, Milan memberikan pukulan telak kepada Liverpool. Milan mampu unggul 3-0 saat jeda. Bek veteran Paolo Maldini membuka keunggulan pada menit pertama pertandingan. Sebelum turun minum, Hernan Crespo menambahnya dengan dua gol. Awal yang sempurna.
salah satu Gol Hernan Crespo pada Final Champions 2005

Tak mau disetir kemurungan, Rafael Benitez menghimpun nafas dan berdiri di tengah para pemainnya. Sang manajer sadar, dia hanya punya waktu 15 menit untuk mengembalikan kepercayaan diri tim. Ketika berjalan dari bangku cadangan menuju ruang ganti, benak Benitez dipusingkan mencari-cari kalimat dalam bahasa Inggris yang tepat untuk "menghidupkan" para pemainnya. Kalimat yang kemudian meluncur dari mulutnya sederhana saja.
Raffael Benitez mampu mebakar semangat pemain Liverpool di ruang ganti

"Jangan tundukkan kepala kalian. Kita Liverpool. Kalian bermain untuk Liverpool. Jangan lupakan itu. Kalian harus tetap menegakkan kepala kalian untuk suporter. Kalian harus melakukkannya untuk mereka", serunya.

"Kalian tak pantas menyebut kalian pemain Liverpool kalau kepala kalian tertunduk. Kalau kita menciptakan beberapa peluang, kita berpeluang bangkit dalam pertandingan ini. Percaya lah kalian mampu melakukannya. Berikan kesempatan buat kalian sendiri untuk keluar sebagai pahlawan."

Sebelum tim keluar kamar ganti, Rafa menyusun skema formasi baru di papan tulis. Untuk menghambat Kaka, Rafa meminta Dietmar Hamann bersiap tampil menggantikan Djimi Traore. Namun, ketika diberitahu Steve Finnan mengalami cedera, Benitez memanggil kembali Traore yang sudah mencopot sepatu dan berjalan ke kamar mandi. Keputusan terakhir, Finnan keluar, Hamann masuk.

Rafa sadar, tak ada lagi ruginya mengorbankan seorang pemain bertahan. Liverpool bermain dengan tiga pemain belakang dan kapten Steven Gerrard didorong lebih ke depan. Liverpool memang harus bangkit, sekarang atau tidak sama sekali.

Inilah lima belas menit yang menentukan. Lima belas menit yang mengubah segalanya. Babak kedua menjadi milik Liverpool. Sembilan menit berjalan, Liverpool menyulut sumbu ledak stadion. Dalam rentang enam menit berikutnya, Liverpool ganti mengendalikan situasi. 
Gol Stve-G semakin membakar semangat The Raffa Army
Steven Gerrard memberikan gol inspirasional lewat sundulan kepala menyongsong umpan John Arne Riise. 
Celebrasi Gol Vladimir Smicer setelah melepaskan tendangan Gledeknya
Tak lama berselang, tendangan keras jarak jauh Vladimir Smicer tak dapat ditahan Dida. 
Gol Xabi melalui titik penalti yang sempat ditahan Dida
Belum lagi Milan menata diri, pada menit ke-60, Gerrard dijatuhkan di kotak penalti oleh Gennaro Gattuso. Penalti! Awalnya, eksekusi Xabi Alonso sempat ditahan Dida, tapi bola muntah langsung disambar Alonso. 

Cerita belum selesai. Kedudukan 3-3 bertahan hingga 90 menit. Pertandingan diperpanjang hingga 30 menit, tapi tetap tak bisa menentukan pemenang. Juara Liga Champions musim itu pun harus diselesaikan melalui babak adu penalti.

Sebelum "babak perjudian" itu dimulai, Jamie Carragher datang menghampiri kiper Jerzy Dudek. Carra menyarankan Dudek agar melakukan "sesuatu" untuk mengacaukan konsentrasi pemain Milan. Dudek langsung teringat rekaman video yang pernah disaksikannya. Kaki spaghetti! Saat adu penalti final Piala Champions 1984 melawan AS Roma, pendahulu Dudek, Bruce Grobbelaar, memelintir-melintir kakinya. Entah memang berpengaruh atau tidak, Grobbelaar berhasil membawa Liverpool menang dan merebut Piala Champions.
Jerzy Dudek menjadi Pahlawan setelah menahan tendangan Andriy Shevchenko 

Trik yang sama dipakai Dudek ketika Andriy Shevchenko bertugas sebagai eksekutor terakhir Milan. Terbukti, trik kuno itu berhasil. Eksekusi Sheva mengarah ke tengah gawang dan dengan sebelah tangan, Dudek menahannya. Liverpool pun merajai Eropa! Jerih payah fans Liverpool yang terus menggemuruhkan dukungan untuk klub kesayangan mereka terbayar sudah!
Gelar Liga Champions yang ke-5 buat LIVERPOOL

Mukjizat di Istanbul ini kemudian diabadikan dalam film Fifteen Minutes That Shook The World. Betapa tidak, final Liga Champions musim itu sangat dramatis dan membuktikan segalanya mungkin terjadi di lapangan sepakbola.

Pascafinal Istanbul, hidup tak lagi sama. Tapi, hidup juga berjalan terus. Satu per satu figur pemain heroik, seperti Harry Kewell, Milan Baros, Djibril Cisse, Luis Garcia, Dudek, dan Smicer meninggalkan Anfield dan melanjutkan karir di klub baru.

Sebagian tetap tinggal, terutama Gerrard. Sang kapten sempat disebut-sebut akan hijrah ke Chelsea musim panas 2005 itu. Tapi, Istanbul mengubah segalanya.
Steven Gerrard menjadi Man of The Match pada Final Champions 2005

"Bagaimana mungkin saya pindah setelah mengalami final seperti ini?" ujar Gerrard.

Arak-arakan bus dengan atap terbuka dan kerumunan satu juta orang, 300 ribu di antaranya memadati St George's Hall, suatu hari di Mei 2005, pasti takkan pernah dilupakan Liverpudlian sepanjang masa.